Selasa, 28 April 2015

Asal-usul Gunung Slamet

Asal-usul Gunung Slamet

Cerita rakyat asal usul Gunung Slamet
Kawah Gunung Slamet. (Ist)
Sindonews.com - Gunung Slamet yang terletak di perbatasan Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas dan Purbalingga itu kembali menggeliat setelah lama tertidur sejak Mei 2009 lalu.

Kemarin, Gunung berketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini naik statusnya dari Normal menjadi Waspada. Warga di sekitar radius dua kilometer-pun diimbau untuk tidak melakukan aktivitas.

Bercerita tentang gunung, selalu ada mitos dan cerita rakyat yang berkembang. Tak ubahnya Gunung Slamet, gunung yang masuk di posisi kedua tertinggi di Indonesia setelah Gunung Semeru itu juga memiliki cerita sendiri.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat yang dihimpun Sindonews, Gunung Slamet pertama kali diberi nama oleh Syeh Maulana Maghribi, seorang penyebar agama Islam yang berasal dari negeri Rum-Turki. Di sana, dia merupakan seorang pangeran.

Suatu hari, setelah melaksanakan ibadah salat Subuh, Syeh Maulana melihat cahaya misterus yang menjulang tinggi di angkasa. Sang Pangeran itu merasa tertarik dan ingin mengetahui sumber cahaya misterius itu.

Beliau-pun memutuskan untuk menyelidikinya sembari menyebarkan agama Islam dengan ditemani pengikutnya yang sangat setia, bernama Haji Datuk, serta ratusan pengawal kerajaan. Mereka berlayar menuju ke arah sumber cahaya misterius.

Namun, ketika kapal yang ditumpanginya tiba di pantai Gresik, Jawa Timur, tiba-tiba cahaya tersebut muncul kembali  di sebelah barat. Dia pun memutuskan untuk ke arah barat hingga sampai di pantai Pemalang, Jawa Tengah.

Di pantai Pemalang, Syeh Maulana menyuruh hulu balangnya untuk pulang ke Turki. Sementara beliau melanjutkan perjalanannya dengan ditemani Haji Datuk dengan berjalan kaki ke arah selatan sambil menyebarkan agama Islam.

Ketika cahaya tersebut melewati daerah Banjar, tiba-tiba beliau menderita sakit gatal di sekujur tubuhnya dan penyakit gatalnya itu pun sulit disembuhkan.

Suatu malam, setelah menjalankan salat tahajjud, Syeh Maulana mendapat ilham jika beliau harus pergi ke Gunung Gora. Setibanya di lereng Gunung Gora, beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya sendiri dan menunggu di suatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap. Ternyata di situ ada sumber air panas yang mempunyai tujuh buah pancuran. Syeh Maulana memutuskan tinggal di sana untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas yang memiliki tujuh buah mata air.

Berkat kemanjuran air panas itu, akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh total. Kemudian Syeh Maulana memberi nama tempat ini menjadi Pancuran Tujuh.

Penduduk sekitar menyebut Syeh Maulana dengan nama Mbah Atas Angin karena datang dari negeri yang jauh. Kemudian Syeh Maulana Maghribi memberi gelar kepada Haji Datuk dengan sebutan Rusuludi yang dalam bahasa jawa berarti Batur Kang Adi (Abdi yang setia).

Sementara desa itu kemudian dikenal dengan sebutan Baturadi yang lama kelamaan menjadi Baturaden yang dalam penulisannya menggunakan satu "R" yaitu: Baturaden. Karena Syeh Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng Gunung Gora maka beliau mengganti nama menjadi Gunung Slamet.

pempek palembang


Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.

Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek biasanya terdapat 9-13 ppm fluor. satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.

Rabu, 01 April 2015

BBM Naik, Pemprov DKI Akan Buat Sistem Tarif Angkutan Baru


on Ribuan Angkot Ini Akan Dipensiunkan Ahok
Liputan6.com, Jakarta - Suasana di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, ramai dipadati penumpang dan bus angkutan kota. Berbagai jenis angkutan umum seperti Metro Mini, angkot, dan Bus Transjakarta datang dan pergi.
Pemandangan ini memperlihatkan, naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 500 per liter mulai 28 Maret lalu, tak berpengaruh apa-apa pada kesibukan di Terminal Kampung Melayu. Benarkah?
Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Senin (30/3/2015), naik turunnya harga BBM memang menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian masyarakat. Terlebih bila harga kebutuhan lain ikut-ikutan naik. Bagaimana dengan tarif angkutan di Ibukota?

"Masih standar aja (tarif angkot), jauh dekat Rp 4.000. Ada juga yang naikin sepihak, seperti angkutan-angkutan kecil. Biasanya Rp 3.000 atau Rp 4.000 jadi Rp 5.000 gitu," ujar Hendy, penumpang bus kota.

Lain lagi harapan para awak angkutan umum. Mereka berharap penumpang membayar sesuai harga BBM.

"Penumpangnya kadang-kadang ada yang bayarnya benar, ada yang nggak.  Sebenarnya Senen - Melayu itu Rp 5.000," keluh Karta, sopir angkot.

Menyiasati naik-turunnya harga BBM, Pemprov DKI Jakarta akan membuat sistem tarif angkutan baru. Nantinya tarif angkutan umum akan disesuaikan dengan jarak per kilometer. Sedang untuk Bus Transjakarta, Pemprov DKI memberi subsidi Rp 1,36 triliun.

Masyarakat, terutama kalangan kurang mampu, kini berharap pemerintah memikirkan dampak kenaikan harga BBM, tak terkecuali pada tarif angkutan umum.